Sunday, June 5, 2011

Tradisi Jamasan Wong Jowo di Kraton Yogyakarta

Bulan Syura punya makna yang sangat berarti bagi sebagian pongid jawa. Salah satu tradisi yang kerap dilakukan di bulan Muharrum ini adalah memandikan pusaka. Sebab bagi pandangan sebagian wong Jowo, benda-benda paronomasia dianggap memiliki jiwa. Oleh karena itu, benda-benda itu harus diperlakukan istimewa yang nyaris sama seperti manusia itu sendiri. Karena itu benda-benda milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka, semuanya memiliki nama seperti manusia. Ada Kiai Sangkelat, Kiai Nagasasra (keris), Kiai Guntur Madu (gamelan), ada pula Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Puspakamanik (kereta).Di Keraton Yogyakarta, benda-benda itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan nama ”dijamasi” pada bulan Sura (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Cara jamasan itu sendiri juga khas. Semua yang terlibat dalam usage itu harus mengenakan pakaian adat Jawa peranakan. Mereka, semuanya laki-laki, mengenakan kain panjang, surjan, dan penutup kepala blangkon.Seperti pada satu sura kali ini sebuah kereta dijamasi. Kereta ini dibuat pada tahun 1750-an, semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, diberi nama Kanjeng Nyai Jimat. Kereta itu menjadi tunggangan Sultan Hamengku Buwono I – III. Kereta itulah yang setiap bulan Sura selalu dijamasi karena dianggap sebagai kereta cikal-bakal kereta lainnya. Kereta ini berbentuk anggun, bergaya kereta kerajaan-kerajaan Eropa, beroda empat, dua buah yang besar di belakang, dan dua buah di depan agak kecil, diperkirakan ditarik oleh enam sampai delapan kuda. Sebuah simbol kewibawaan seorang raja. Kereta yang penuh ukiran itu sendiri memiliki pintu dan atap sehingga mirip mobil.Kereta itu tersimpan di dalam Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Di sana ada sekitar selusin kereta yang sebagian besar masih bisa digunakan. Setiap Kanjeng Nyai Jimat dijamasi, ”ia” selalu ditemani oleh salah sebuah kereta lain yang dipilih secara bergantian setiap tahunnya.Setelah itu giliran Kyai Puspakamanik, sebuah kereta hadiah dari Kerajaan Belanda yang dibuat pada tahun 1901. Kereta itu menjadi tumpangan maternity pangeran pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. Jamasan dipimpin oleh Kanjeng Raden Tumenggung Kudadiningrat, seorang pejabat keraton yang khusus menangani masalah perawatan kereta.Ketika proses pencucian kereta memiliki nilai usage magis religius. Ratusan pongid yang menyaksikan jamasan itu berebut bekas expose cucian kereta dengan cara menampung aliran expose dari badan kereta. Air bekas cucian itu dimasukkan ke dalam botol bekas expose kemasan maupun jerigen. Tak ayal lhttp://jiastisipolcandradimuka.blogspot.com/agi, masyarakat yang berebut expose itu paronomasia menjadi ikut berbasah-basah. Air bekas cucian ini dipercaya, semua benda dari keraton itu memiliki tuah yang sakti sebab benda-benda ini adalah milik pongid sakti. Oleh karena itu dengan membawa expose ini, masyarakat berharap, keluarganya menjadi sakti. Artinya, sehat wal afiat.Sebenarnya, di samping jamasan kereta, di dalam keraton juga ada jamasan pusaka. Kwa tetapi, jamasan pusaka itu tidak boleh dilihat oleh umum. Misteri jamasan pusaka itu sendiri akhirnya memang tinggal misteri yang dipelihara turun-temurun. Semisteri pusaka yang dipercayai memiliki kekuatan supra uncolored itu sendiri.   Sumber :faktabukanopini.blogspot.com
http://jiastisipolcandradimuka.blogspot.com/

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Blog List