Monday, July 11, 2011

Cara budidaya jamur tiram putih

Binis produksi jamur tiram putih kian menjadi bisnis yang menjanjikan. Jamur tiram bisa diolah menjadi berbagai macam menu olahan yang lezat. Hal ini menjadikan permintaan pasar terhadap jamur tiram selalu tinggi, apalagi cara budidaya jamur tiram putih ini tidaklah sulit. Siapapun bisa mencoba.
Jika ingin membudidayakan jamur tiram, terlebih dahulu persiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
Bahan
  • Bibit jamur berkualitas.
  • Air untuk membasahi bekatul.
  • Bekatul.
  • Tepung jagung.
  • Kapur dolomite untuk mengatur pH.
  • Serbuk gergaji, sebaiknya diambil dari serbuk kayu yang homogen, karena serbuk gergaji dari kayu yang heterogen dapat menjadikan proses pengomposan kurang sempurna. Hindari penggunaan serbuk gergaji dari kayu yang bergetah karena getahnya dapat memicu kontaminan.
  • Kapas.
  • Bag log.

Alat

  • Ruang pemanasan yang suhunya dapat dikendalikan, digunakan untuk sterilisasi media.
  • Rak penempatan inkubasi.
  • Alat pengepres untuk memadatkan campuran media.
  • Spatula pengaduk bibit.

Teknik budidaya

Cara budidaya jamur tiram putih adalah sebagai berikut:
1. Persiapan media
  • Menambahkan air pada serbuk gergaji hingga kelembaban 55-65%.
  • Jika memakai campuran jagung, komposisinya adalah media gergaji (80%), bekatul (10%), dan tepung jagung (10%), namun jika tanpa tepung jagung komposisinya serbuk gergaji (15% dan 85%).
  • Tambahkan kapur dolomite hingga pH menjadi netral atau sekitar 7.
  • Campur berbagai bahan media berkali-kali dan pastikan semuanya tercampur dengan merata.
2. Pengemasan media
  • Bahan yang sudah tercampur merata dimasukkan dalam plastik.
  • Pres media sepadat mungkin dan pasang cincin pada mulut plastik lalu tutup dengan kapas. Fungsinya untuk membuat mulut media guna memasukkan bibit jamur.
  • Tutup kapas dan ujung media agar kapas tidak kena uap saat disterilisasi.
3. Sterilisasi
Cara budidaya jamur tiram putih erat kaitannya dengan sterilisasi media. Media yang baik harus bebas dari mikrobia pathogen seperti jamur dan bakteri. Oleh karenanya proses sterilisasi harus diperhatikan.
Berikut teknik sterilisasinya:
  • Agar tidak repot mensteril alat, saat sterilisasi media, masukkan sekalian spatula yang akan digunakan untuk menyebar bibit. Spatula dibungkus dalam plastik dan ditutup agar setelah dikeluarkan dari alat sterilisasi tidak terkena kontaminasi.
  • Tata media dalam ruang pemanas atau drum sterilisasi.
  • Panaskan media hingga suhu kurang lebih mencapai 90 derajat. Pertahankan pemanasan pada suhu tersebut selama 8-9 jam.
  • Biarkan drum tetap tertutup setidaknya setangah hari untuk menghindari penguapan air pada tepi plastik akibat perubahan suhu yang mendadak.
4. Inokulasi bibit jamur
  • Cuci kaki dan tangan dengan sabun anti kuman untuk meminimalisir kontaminan. Semprot tangan dengan alkohol 70%.
  • Keluarkan spatula dari plastik.
  • Buka tutup wadah bibit dan aduk bibit dengan spatula yang telah disterilisasi.
  • Buka kapas di mulut media dalam plastik, lalu tuangkan bibit dan tutup kembali media dengan kapas tersebut.
  • Pasang kembali tutup mulut media.
  • Bibit siap diinkubasi.
5. Inkubasi
  • Media yang sudah diberi bibit diletakkan dalam rak penyimpanan.
  • Masa inkubasi berkisar kurang lebih 40 hari dengan suhu optimal 22-28 derajat celcius.
6. Pemeliharaan
  • Pada tahap pemeliharaan penutup baglog sedikit dibuka.
  • Pastikan pula ventilasinya lancar sehingga suplai oksigennya terpenuhi dengan baik.
  • Pertahankan kelembaban udara dengan melakukan penyiraman.
7. Panen
Setelah badan jamur tumbuh besar dan lebar, jamur sudah bisa dipanen.
Selain teknik-teknik diatas, dalam cara budidaya jamur tiram putih memperhatikan pula lingkungan budidaya seperti halnya kelembaban. Semakin lembab tempat budidaya, resiko kontaminannya menjadi lebih tinggi.
Oleh karenanya jika dibudidayakan pada tempat yang lembab sebaiknya kurangi kadar nutrisi karena nutrisi dapat lebih cepat memicu pertumbuhan jamur dan bakteri.
 anneahira.com

  Teknik Budidaya Jamur Tiram

I. SYARAT PERTUMBUHAN 1.1. Iklim a) Secara alami, jamur tiram Pleurotus ditemukan di hutan dibawah pohon berdaun lebar atau di bawah tanaman berkayu. Jamur tiram tidak memerlukan cahaya matahari yang banyak dan remang-remang, di tempat terlindung miselium jamur akan tumbuh lebih cepat daripada di tempat yang terang dengan cahaya matahari berlimpah.b) Kelembaban ruangan optimal 90-96% yang harus dipertahankan dengan menyemprotkan air secara teratur.c) Suhu udara untuk pertumbuhan miselia adalah 23-28 derajat C dan untuk pertumbuhan tubuh buah adalah 13-15 derajat C. 1.2. Media Tanam Secara tradisional, di Jepang, bibit ditanam di dalam lubang atau garisan di kayu kering. Pengeringan dilakukan dengan tenaga sinar matahari atau listrik. Dalam budidaya modern, media tumbuh berupa kayu tiruan (log) yang dibuat dalam bentuk silinder. Komposisi media ini berupa sumber kayu (gergaji kayu, ampas tebu), sumber gula (tepung-tepungan), kapur, pupuk P dan air. 1.3. Ketinggian Tempat Kondisi di atas lebih mudah dicapai di daerah dataran tinggi sekitar 700-800 m dpl. Kemungkinan budidaya jamur di dataran rendah tidaklah mustahil asalkan iklim ruang penyimpanan dapat diatur dan disesuaikan dengan keperluan jamur. II. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA 2.1. Pembibitan 2.1.1. Sumber Bibit a) Sumber alamiDipakai untuk media tradisional. Batang kayu yang telah ditumbuhi jamur dilembabkan, kemudian dirajang sepanjang 5-10 cm dan lebar 1-2 cm. Potongan disebarkan ke batang kayu lain yang dijadikan media tumbuh. b) SporaSpora terbentuk di tudung/payung bagian bawah. Tudung/payung yang berumur 3 hari dihancurkan di dalam air bersih. Cara penggunaan cairan ini ada 2 macam: (1) cairan ini dapat digunakan langsung sebagai bibit; (2) cairan disiramkan ke media yang tersusun dari serbuk gergaji dan kukusan jagung/padi. Setelah diinapkan beberapa hari, miselium akan tumbuh menyelimuti media dan siap digunakan. c) Biakan murniCara ini menghasilkan bibit berkualitas. 1. Siapkan media Potato Dextrose Agar (PDA) yang terdiri atas ekstrakt kentang 1 liter (1 kg kentang digodog dengan 1 liter air, lalu disaring), gula dekstrosa 20 gram, ekstrak ragi 5 gram (dapat diganti dengan 400 ml air ragi tetapi air kentang jadi 600 ml) dan agar-agar batang 20%. Media lain yang bahan mudah didapat terdiri atas 1/4 kg kentang, 1/4 kg bawang bombay, 1/4 kg aci, 1 sendok makan gips dan 3 bungkus agar-agar kecil. Panaskan campuran media tersebut untuk melarutkan agar-agar. Masukkan 15 cc media ke dalam tabung reaksi 25 cc kemudian disterilkan dalam autoklaf pada temperatur 121 derajat C, tekanan 1,5 selama 15 menit atau dengan dikukus pada temperatur 100 derajat C selama 8 jam.Biarkan media PDA sampai hangat tetapi masih cair. Buka sedikit cawan petri bagian atas, masukkan segera media ke dalam cawan petri steril secara aseptik. Tutup cawan petri dengan cepat. Setelah agar membeku, balikkan posisi cawan petri. Media ini disebut dengan media lempeng agar.2. Ambil tubuh buah berumur 3 hari (diameter sekitar 10 cm) yang sehat, mulus dan bagian sisinya tidak berkerut. Lepaskan stipe/bilah di bagian bawah tubuh buah. Ambil potongan bilah dengan pinset steril dan letakkan di tengah media lempeng agar yang telah disiapkan. Inkubasikan media di dalam inkubator pada temperatur 28 derajat C. Pada hari ke 2, miselium mulai tumbuh dan pada hari ke 5 seluruh permukaan media tertutupi miselium. Biakan murni ini disebut dengan bibit F1. 3. Pengerjaan seluruh proses di atas harus aseptik/bersih untuk menghindari tumbuhnya jamur yang tidak dikehendaki. Sebelum digunakan alat-alat berupa pisau atau pinset harus dibakar di atas api. Sebaiknya pengerjaan dilakukan di dalam laminar flow atau transfer box yang dijamin kebersihannya. 4. Pembiakan murni jamur tiram ini sudah dibuat di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian Unpad, Jurusan Biologi ITB dan PAU Mikrobiologi ITB. Bibit jamur murni bisa disimpan sampai 6 bulan pada temperatur sekitar 4 derajat C. 2.1.2. Pembuatan Bibit Jamur F2 Bahan-bahan untuk media bibit F2 adalah:a) Jagung tumbuk atau padi bergabah = 60%.b) Serbuk gergaji = 38%.c) Kapur = 0,5-1%.d) Gips = 0,1-1%. Sebelum dicampurkan, jagung tumbuk/padi direndam semalam dan dikukus 2 jam sampai mekar. Media dimasukkan ke dalam toples bekas jam.Satu lempeng agar bibit F1 dibagi menjadi delapan bagian. 1 bagian dimasukkan ke dalam media di atas dengan miselium menempel pada media. Setelah 2-4 minggu seluruh media ditumbuhi miselium dan siap ditanam ke log. 2.1.3. Pembuatan Bibit Jamur F3 Walaupun bibit F2 lebih baik daripada F3, banyak petani jamur yang menggunakan bibit F3 untuk ditanamkan ke dalam log. Media untuk bibit F3 berupa log dengan komposisi media dan cara pembuatan yang sama dengan log produksi, hanya ukuran plastiknya sekitar 1 kg. Bibit F3 dibuat dengan menambahkan 2 sendok makan bibit F2 ke bagian atas log, lalu diinkubasikan selama 1 bulan sampai miselium memenuhi seluruh permukaan log. Bibit F3 siap ditanamkan ke log produksi. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan steril di dalam laminar flow atau transfer box. 2.2. Pengolahan Media Tanam 2.2.1. Persiapan Untuk 80 log diperlukan bahan-bahan seperti di bawah ini:a) Serbuk gergaji atau ampas tebu halus=100 kgb) Tepung jagung=10 kgc) Dedak halus=10 kgd) Pupuk SP36=0,5 kge) Gips=0,5 kgf) Air=50-60% Bahan-bahan kecuali air dicampur merata, tambahkan air sampai media dapat dikepal. 2.2.2. Pembuatan Log Media dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas kapasitas 1,5-2 kg sampai Media harus dipadatkan agar terbentuk log yang baik. Ikat mulut plastik dengan karet tahan panas dan sterilkan. 2.2.3. Sterilisasi Log Sterilisasi perlu dilakukan agar media bebas dari mikroba lainnya. Terdapat dua cara sterilisasi yaitu: a) Sterilisasi pada temperatur 100 derajat C selama 8 jam dengan cara mengukus. Biasanya digunakan drum kapasitas 50 log yang dipanaskan dengan kompor minyak tanah. b) Sterilisasi pada temperatur 121 derajat C selama 15 menit dengan menggunakan otoklaf atau dandang bertekanan uap. 2.3. Teknik Penanaman 2.3.1. Penanaman Bibit Buka bagian atas log yang telah disterilkan. Hamparkan 1-2 sendok makan bibit jamur F3 atau F2. Gunakan sendok yang telah dipanaskan di atas api. Rapatkan kembali plastik bagian atas. Masukkan cincin dari bambu berdiameter 3 cm dan tinggi 1 cm ke dalam plastik yang dirapatkan tersebut. Isi lubang yang terbentuk dengan kapas. Tutup kapas beserta cincin dengan kertas koran dan ikat. 2.3.2. Penyimpanan Log Jika kita akan menyimpan log di dalam bangunan maka masa tanam jamur tiram tidak diatur oleh kondisi iklim dan dapat dilakukan setiap saat. Log yang sudah ditanami bibit harus disimpan di tempat yang menunjang pertumbuhan miselium dan tubuh buah. Bangunan untuk menyimpan log dapat dibuat permanen untuk budidaya jamur skala besar atau di dalam bangunan semi permanen. Tempat pemeliharaan jamur dibuat dengan ukuran 10 x 12 m2 yang di dalamnya terdapat 8 buah petak pemeliharaan berukuran 5,7 x 2,15 m2. Jarak antar petak 40-60 cm. Di dalam setiap petak dibuat rak-rak yang tersusun ke atas untuk menyimpan 1.300-1.400 log. Rangka bangunan dapat dibuat dari besi, kayu atau bambu. Kondisi lingkungan yang harus diperhatikan dalam membuat bangunan penyimpanan adalah:a) Temperatur untuk pembentukan miselium adalah 23-28 derajat Cb) Temperatur untuk pembentukan tubuh buah adalah 13-15 derajat Cc) Kelembaban udara 90-96%d) Kadar air log 35-45%e) Udara di dalam tidak tercemari asap/gas. Log disimpan di atas rak dengan posisi tegak atau miring. Jarak penyimpanan diatur sedemikian rupa sehingga tubuh buah yang tumbuh dari satu log tidak bertumpang tindih dengan tubuh buah yang lain. 2.4. Pemeliharaan Tanaman 2.4.1. Pemeliharaan Log Log yang akan membentuk miselium dan tubuh buah harus dipelihara. Pemeliharaan berhubungan dengan menjaga lingkungan agar tetap optimuma) Kandungan air yang baik 35-45%. Kekurangan air menyebabkan miselium tidak membentuk tubuh buah karena kekeringan dan kelebihan air menyebabkan tumbuhnya jenis jamur lain yang tidak diinginkan. b) Cahaya. Perkembangan miselium dan tubuh buah akan terhambat dengan adanya cahaya langsung. Tempat penyimpanan harus tetap teduh dan sinar matahari tidak masuk secara langsung ke dalam ruangan. 2.4.2. Pembentukan Miselium dan Tubuh Buah a) Penumbuhan Miselium.Miselium akan tumbuh memenuhi permukaan log setelah penyimpanan selama kurang lebih 1 bulan. Selama jangka waktu tersebut, temperatur dan kelembaban harus optimal. Pengaturan temperatur dan kelembaban dapat dilakukan dengan cara:1. Menyemprotkan air dengan sprayer ke dinding-dinding bangunan penyimpanan dan ke ruang di antara jajaran log. 2. Menyemprotkan air dengan sprinkel bernozel halus. b) Pembentukan tubuh buah pertama.Setelah miselium tumbuh sempurna, lepaskan cincin log dan buka plastik bagian atas sehingga seluruh permukaan atas log kontak dengan udara. Pada waktu ini diperlukan raising yaitu pengaturan lingkungan agar tubuh buah tumbuh. Raising dilakukan dengan:1. Menurunkan temperatur ruang menjadi 13-15 derajat C dengan menggunakan pengatur temperatur (Air Conditioning) atau menyemprotkan air dengan nozel halus secara intensif.2. Menurunkan temperatur dan sekaligus menyemprotkan bahan yang mengandung hormon pertumbuhan ke permukaan log yang kontak dengan udara. Air kelapa atau ekstrakt toge dapat dipakai sebagai sumber hormon tsb. Dengan cara ini pertumbuhan tubuh buah akan mencapai dua kali lipat dibandingkan cara pertama. Tubuh buah pertama terbentuk setelah 3-5 hari pembukaan. c) Pembentukan tubuh buah selanjutnyaSetelah tubuh buah pertama dipanen, turunkan bukaan plastik sampai ½ bagian log. Kadang-kadang calon bakal buah sudah tumbuh di bawah plastik yang belum terbuka. Bagian plastik tersebut harus dilubangi untuk memberi kesempatan tubuh buah keluar dan tumbuh. Pembukaan log sebaiknya tidak dilakukan sekaligus, terutama pada budidaya skala besar. Jarak pembukaan satu kelompok log dengan kelompok lainnya ditentukan sedemikian rupa sehingga setiap hari ada tubuh buah yang dipanen. Pembukaan log yang bertahap akan menjamin kelangsungan produksi. 2.5. Hama dan Penyakit 2.5.1. Hama Hama yang banyak terdapat di tempat budidaya jamur adalah serangga baik berupa kumbang atau kutu. Pencegahan dengan sanitasi lingkungan atau, alternatif terakhir, penyemprotan insektisida. Perlu diingat bahwa residu insektisida akan menempel di tubuh buah sehingga jamur yang dipanen harus dicuci bersih di air mengalir. Pencucian dapat menyebabkan penurunan kualitas jamur kalau kelebihan air tidak langsung dihilangkan dengan cara ditiriskan. 2.5.2. Penyakit Penyebab timbulnya penyakit adalah sterilisasi yang tidak sempurna, bibit yang tidak murni, alat yang kurang bersih dan kandungan air media terlalu tinggi. Penyakit berupa tumbuhnya jamur lain seperti Mucor, Rhiozopus, Penicillium dan Aspergillus pada log. Serangan jamur-jamur tersebut dicirikan dengan timbulnya miselium yang berwarna hitam, kuning atau putih dan timbulnya lendir. Pertumbuhan jamur tiram menjadi terhambat atau tidak tumbuh sama sekali. Serangan dapat terjadi di log yang belum atau sudah dibuka. Pengendalian dilakukan dengan memperbaiki kultur teknis dan meningkatkan kebersihan lingkungan pada saat pembuatan media dan bibit serta lingkungan bangunan penyimpanan. 2.6. Panen 2.6.1. Ciri dan Umur Panen Jamur tiram Pleurotus adalah jamur yang rasanya enak dan memiliki aroma yang baik jika dipanen pada waktu umur muda. Panen dilakukan setelah tubuh buah mencapai ukuran maksimal pada 2-3 hari setelah tumbuh bakal tubuh buah. 2.6.2. Cara Panen Pengambilan jamur harus dilakukan dari pangkal batang karena batang yang tersisa dapat menimbulkan busuk. Potong jamur dengan pisau yang besih dan tajam dan simpan di wadah plastik dengan tumpukan setinggi 15 cm. 2.6.3. Periode Panen Panen dilakukan setiap hari atau beberapa hari sekali tergantung dari jarak pembukaan log-log. Dari satu log akan dihasilkan sekitar 0,8-1 kg jamur. 2.7. Pascapanen 2.7.1. Penyortiran Setelah dipanen, batang tubuh buah dipotong. Pisahkan jamur yang rusak dari jamur yang baik, pisahkan pula jamur sesuai dengan ukurannya. 2.7.2. Penyimpanan Setelah penyortiran, buang kotoran pada jamur tanpa mencucinya. Simpan di dalam wadah bersih dan tempatkan di kamar dengan temperatur 15 derajat C. Jamur dapat tetap segar selama 5 x 24 jam. Sebelum pengemasan, jamur dapat disemprot dengan larutan natrium bisulfit 0,1-0,2% yang menghambat pembusukan 2.7.3. Pengemasan Pengemasan dilakukan dalam:a) Kantung plastikb) Kantung plastik yang divakum (udara dikeluarkan)c) Wadah plastik putih dan ditutup dengan plastik lembaran tipis. 2.7.4. Penanganan Lain a) Pengeringan. Jamur direndam dalam air bersih, atau cuci dengan air mengalir lalu diiris tipis atau dibiarkan seperti adanya. Masukkan ke dalam air mendidih sebentar, lalu tiriskan. Keringkan jamur di dalam oven listrik/ minyak tanah. b) Penambahan senyawa pengawet. Jamur utuh dibersihkan dari kotoran jika perlu dengan air mengalir. Rendam dalam asam sitrat 0,1% selama 5 menit. Cuci dengan air mengalir. Masukkan ke dalam larutan yang terdiri atas garam dapur (15%), garam sitrat (0,5%), SO2 (1%), kalium bikarbonat (0,1%) dan kalium metabisulfida (<1%) selama 10-15 menit. Tiriskan kembali. Jamur akan awet selama 2 minggu tanpa pengepakan dan 1 bulan bila langsung dipak cara vakum. Truk pengangkut jerami padi itu berhenti di depan kumbung jamur. Seorang pekerja bergegas mengangkat dan mencelupkan jerami ke drum berisi air panas. Lima detik kemudian, ia mengangkat jerami dan menebarkan di atas jaring kawat. Setelah tiris, ia menambahkan 300 g dedak dan 40 g kapur pada 2 kg batang padi kering itu yang dimasukkan ke dalam plastik ukuran 5 kg.

Jerami padi itu lazim dimanfaatkan sebagai media tumbuh jamur merang Volvariella volvacea. Namun, Adi Yuwono, pekebun di Ciwidey, Kabupaten Bandung, menggunakannya sebagai media jamur tiram. ‘Merang itu pengganti serbuk gergaji kayu,’ kata Adi Yuwono. Penggunaan media itu memang kontras.

Sebagai jamur kayu, tiram biasanya tumbuh di atas media serbuk gergaji kayu tertentu. Ide menggunakan jerami untuk media tanam tiram terlintas ketika Adi pulang kerja melalui Soreang-Ciwidey.Di sana memang terdapat tumpukan jerami. Sarjana Pertanian alumnus Universitas Islam Nusantara itu yakin merang kaya serat dan selulosa seperti serbuk kayu. Ia menguji coba media tanam ‘baru’ itu dengan menanam bibit tiram di 100 baglog jerami. Hasilnya? Total produksi sebuah baglog berbobot 1,2 kg itu mencapai 275 g. Baglog itu berproduksi selama 6 bulan. Itu berarti produktivitas tiram bermedia jerami sama dengan tiram bermedia serbuk gergaji.
 Tingkatkan laba
Selain memanfaatkan jerami baru, pekebun juga dapat menggunakan media bekas penanaman jamur merang. Caranya dengan menebar media itu di atas permukaan lantai untuk mengurangi kadar air. Kadar air berlebihan memicu tumbuhnya cendawan patogen. Setelah itu Adi menambahkan 15-25% serbuk gergaji dari total jumlah kompos, 2,5% bekatul, 1-1,5% kalsium karbonat atau kapur, 0,5% gips, dan 0,25% pupuk TS. Pemanfaatan ‘limbah’ jamur merang sebagai media jamur tiram itu menghasilkan produksi tinggi, 121 g/baglog.

Selain produktivitas tinggi, kelebihan penggunaan jerami antara lain diperoleh tanpa membayar sepeser pun. Sebab, jerami merupakan limbah yang biasanya teronggok di tepi sawah. Makanya, biaya yang dikeluarkan hanya ongkos pengangkutan yang sama dengan pengangkutan serbuk gergaji. Hasilnya, ‘Bisa menghemat 50% biaya produksi,’ kata ayah 2 anak itu. Jika media serbuk gergaji kayu membutuhkan biaya Rp700/baglog, jerami padi hanya Rp350/baglog.

Pengurangan biaya produksi sangat penting. Sebab, ada saatnya harga jual jamur tiram cenderung stagnan bahkan turun. Jika menjelang puasa dan lebaran jamur tiram mencapai Rp7.000-Rp8.000/kg; hari biasa harganya anjlok menjadi Rp5.000-Rp5.500. Media serbuk kayu komponen biaya tertinggi dalam produksi. Oleh karena itu, Adi rajin mencari dan menoba berbagai media alternatif. Melalui pencarian literatur di dunia maya, diketahui universitas di Korea Selatan telah menggunakan jerami padi sebagai media oyster mushroom itu. Hasil percobaan membuktikan media merang meningkatkan 100% produktivitas dibanding media serbuk gergaji. Karena tertarik, Adi langsung mengaplikasikannya. Pada saat yang sama, Adi juga membuat baglog bermedia jerami berbentuk mirip baglog konvensional.

Dua kilogram jerami dikomposkan terlebih dahulu selama tiga hari. Setelah itu dicampur dedak 250 g, kapur 200 g, dan dipadatkan dalam plastik baglog. Sayang, produktivitasnya hanya 121 g/baglog. Itu pun hanya bisa dipakai satu kali produksi. Sudah begitu, jerami yang dipadatkan punya banyak kelemahan. Dari segi teknologi, butuh alat pengempa agar padat. ‘Alatnya mirip pengempa batubara, berbeda dengan alat pengempa serbuk kayu,’ kata Adi. Di lain pihak, plastik yang digunakan mesti tebal agar tidak cepat bocor akibat penekanan. Selain itu, penumpukan jerami saat pengomposan menyebabkan serangga mudah hinggap dan meletakkan telur. Akibatnya, pertumbuhan jamur terhambat dan produktivitasnya rendah. Kelemahan lain, telat panen. Jika sistem konvensional pin head keluar setelah 15-17 hari dari masa inkubasi 30 hari. Jamur tiram dengan media jerami dipadatkan butuh waktu 30 hari pinhead keluar dari baglog.
 Banyak media
Hasil penelusuran Trubus di dunia maya, penggunaan merang sebagai media jamur tiram telah diteliti Ruihong Zhang dari Biological and Agricultural Engineering Department, University of California, Amerika Serikat sejak 2001. Sejak itu, bermunculan penelitian penggunaan berbagai media pengganti serbuk gergaji. Media lain seperti daun pisang, tongkol jagung, klobot jagung, dan gabah padi diteliti Obodai Mcleland-Okine dari Food Research Institute, Ghana. Hasilnya, daun pisang, tongkol jagung, klobot jagung, dan gabah padi dapat memproduksi jamur tiram 111,5 g, 87,8 g, 49,5 g, dan 23,3 g sekali produksi. Masing-masing bahan bisa digunakan 2-3 kali per baglog.

Hasil itu memang kecil dibandingkan menggunakan serbuk gergaji yang mencapai 183,1 g dan jerami padi 151,8 g. Penyebabnya, jumlah lignoselulosa, lignin, dan serat pada serbuk gergaji dan merang lebih tinggi. Media tiram lain diteliti E Peker dari Faculty of Technical Education, Mugla University, Turki. Ia menggunakan media limbah kertas ditambah gambut, kotoran ayam, dan gabah. Campuran itu terbukti mempercepat pertumbuhan miselium, hanya 15,8 hari; serbuk gergaji mencapai 30,4 hari. Tudung pun diperoleh pada hari ke 21,4, dan sempurna setelah 25,6 hari dengan produktivitas 350,2 g. Menurut E Peker, besarnya tudung dan kecepatan tumbuh dipengaruhi tingginya nutrisi asal 20% gabah. Lain lagi hasil penelitian Raul J. H. Castro-Gomez dari Biotechnology Prog, Universidade Estadual de Londrina, Brazil. Penggunaan ampas tebu sebagai media jamur dapat mempercepat pertumbuhan jamur dibandingkan media lain. Penyebabnya, ampas tebu mengandung veratil alkohol yang menstimulasi peningkatan tumbuh jamur. Tanpanya, produktivitas turun 50% dan waktu 30% lebih panjang. ‘Hampir semua limbah pertanian berpotensi menjadi media jamur tiram,’ kata Adi Yuwono. Dengan begitu biaya produksi dapat ditekan dan melambungkan keuntungan petani.
 Sumber: Trubus, Desember 2007
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Blog List